BANTUL - Gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang syahdu memuji kebesaran Allah SWT di sekitar halaman SD Kadipiro 1, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Tepat pukul 06.30 WIB, pelaksanaan ibadah Sholat Iduladha dimulai dengan penuh kekhusyukan.
Halaman sekolah dan area sekitarnya tampak dipadati oleh antusiasme jamaah yang berbondong-bondong datang dari Kampung Sutopadan serta wilayah di sekitarnya.
Acara keagamaan tahunan ini juga dihadiri oleh tokoh masyarakat setempat, termasuk Lurah Ngestiharjo, Bapak Fathoni Aribowo, yang tampak hadir bersama anggota keluarganya di tengah-tengah shaf jamaah.
Bertindak sebagai khatib sekaligus imam sholat adalah Ustadz Arif Haryanto, S.Si., yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Bantul. Dalam khutbahnya yang penuh semangat namun menyentuh hati, Ustadz Arif mengajak seluruh jamaah untuk bersyukur atas nikmat kesehatan, kesempatan, dan kelimpahan rezeki sehingga bisa merayakan Iduladha tahun ini dengan damai. Beliau menekankan pentingnya mengambil ibrah (pelajaran) dari sejarah masa lalu, khususnya keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS.
Ustadz Arif menjelaskan bahwa di dalam Al-Quran Surat Al-Mumtahanah, Allah SWT secara tegas memerintahkan umat Islam untuk mencontoh Nabi Ibrahim beserta orang-orang yang bersamanya, yang dalam tafsir merujuk pada keluarganya. Berbeda dengan Nabi Nuh AS atau Nabi Lut AS yang keluarganya membangkang, Nabi Ibrahim AS dianugerahi keluarga yang kompak dalam ketaatan.
"Setiap orang beriman pasti akan diuji, tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian. Namun, dari keluarga Nabi Ibrahim, kita belajar bagaimana menghadapi badai ujian kehidupan dengan keteguhan iman dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT."
Pelajaran pertama yang dijabarkan oleh Ustadz Arif adalah kisah masa muda Nabi Ibrahim AS. Ketika beliau dengan gigih mengingatkan ayahnya, Azhar, beserta kaumnya untuk berhenti menyembah berhala, beliau justru diancam, diusir, bahkan puncaknya dilemparkan ke dalam kobaran api yang besar. Namun, atas kuasa Allah, api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim AS.
Di era modern yang serba canggih saat ini, Ustadz Arif mengingatkan jamaah agar waspada terhadap bentuk "berhala baru". Berhala masa kini bisa berupa pemujaan yang berlebihan terhadap harta, takhta, dan kekuasaan yang sering kali membuat manusia melupakan penciptanya. Pertanyaan besar yang harus selalu ditanamkan kepada anak cucu kita adalah: "Siapa yang akan kamu sembah setelah aku tiada?"
Memasuki poin kedua, khatib mengisahkan penantian panjang Nabi Ibrahim AS yang terus berdoa memohon keturunan hingga usianya menginjak 86 tahun. Ketika Nabi Ismail AS lahir, datang ujian baru yang tidak logis secara nalar manusia: Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, bersama bayi Ismail di lembah bera yang tandus tanpa air dan tanpa seorang pun manusia di sana.
Siti Hajar sebagai wanita sholehah sempat bertanya apakah hal ini merupakan perintah Allah SWT. Ketika Nabi Ibrahim AS menjawab "Iya", dengan penuh keyakinan Siti Hajar menjawab bahwa Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan mereka. Buah dari kesabaran tingkat tinggi tersebut adalah memancarnya mata air Zamzam yang hingga hari ini menghidupi jutaan manusia.
Ustadz Arif pun memotivasi jamaah agar tidak pernah berputus asa dalam berdoa, karena Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap doa pasti dikabulkan melalui tiga ketentuan:
- Dikabulkan segera di dunia (bisa hari ini, esok hari, atau di waktu terbaik menurut Allah). Disimpan dan ditunda oleh Allah untuk dipanen pahalanya kelak di akhirat.
- Dijadikan sebagai penghalang atau tameng yang menghindarkan diri kita dari marabahaya, musibah, maupun penyakit.
Puncak dari khutbah Iduladha ini mengupas kisah ketika Nabi Ismail AS telah tumbuh dewasa, di mana Nabi Ibrahim AS diperintahkan melalui mimpi untuk menyembelih anak yang teramat dicintainya tersebut. Respon Nabi Ismail AS sungguh luar biasa, beliau justru menguatkan ayahnya dengan berkata, "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu." Ketaatan murni ini akhirnya digantikan oleh Allah SWT dengan seekor domba (kibas) jantan dari surga.
Di akhir ceramahnya, Ustadz Arif menyentuh realitas sosial yang memprihatinkan akhir-akhir ini. Beliau menyoroti banyaknya anak muda maupun keluarga muda yang frustrasi dalam menghadapi ujian hidup, bahkan belum lama ini ada kejadian tragis di sekitar wilayah tersebut di mana seseorang meninggalkan surat wasiat dan berniat mengakhiri hidup.
Beliau menegaskan bahwa bunuh diri bukanlah solusi, melainkan awal dari kesengsaraan yang panjang. Seberat apa pun beban hidup, pasti ada jalan keluar asalkan kita mau mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan modal kesabaran. Beliau merinci ada tiga macam kesabaran yang harus dijaga, yaitu sabar dalam merawat kebaikan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar saat menerima musibah.
"Seorang mukmin sejati itu hanya memiliki dua sisi dalam hidupnya. Ketika diberikan musibah dia bersabar, dan ketika diberikan nikmat dia bersyukur. Sesederhana itu hidup kita, karena dunia ini hanyalah tumpangan sementara, dan tempat kembali kita yang sejati adalah akhirat," pungkas Ustadz Arif sebelum menutup khutbahnya dengan doa bersama yang menggetarkan hati jamaah.
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.