BANTUL– Menjelang tibanya Hari Raya Iduladha, Masjid As-Salam Sutopadan menyelenggarakan kegiatan edukatif berupa Kajian Fikih Kurban yang berlangsung khidmat pada 10 Mei 2026. Acara ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari para shohibul kurban (orang yang berkurban), panitia kurban, serta jajaran pengurus ketakmiran Masjid As-Salam.
Kajian ini dipandu oleh Ustadz Syaiful Mukmin, seorang pakar yang menekankan pentingnya sinergi antara pemahaman syariat dan teknis profesional dalam pelaksanaan ibadah kurban. Tujuan utama dari agenda ini adalah memberikan pembekalan mendalam agar seluruh pihak yang terlibat memiliki kesiapan mental dan keterampilan yang mumpuni, sehingga ibadah kurban tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga berkualitas secara operasional.
Landasan Syariat dan Kesiapan Hewan
Dalam pemaparannya, Ustadz Syaiful Mukmin mengawali kajian dengan mengulas kembali dalil-dalil sahih yang mendasari pensyariatan kurban. Ia mengingatkan bahwa kurban adalah bentuk ketaatan hamba kepada Allah SWT yang menuntut kesempurnaan dalam pelaksanaannya.
Salah satu poin penting yang menjadi sorotan adalah penanganan hewan sebelum disembelih (pre-slaughter handling). Ustadz Syaiful menjelaskan bahwa manajemen hewan dimulai sejak hewan diturunkan dari kendaraan pengangkut hingga di tempat transit.
"Hewan kurban harus diperlakukan dengan kasih sayang sejak ia sampai di lokasi masjid. Hindari perlakuan kasar saat menurunkan hewan dari truk, karena stres pada hewan akan memengaruhi kualitas dagingnya," tuturnya.
Berdasarkan tinjauan ilmu kedokteran hewan yang selaras dengan nilai ihsan, pemateri menyarankan agar hewan dipuasakan (tidak diberi makan) selama 12 jam sebelum penyembelihan, namun tetap diberikan minum yang cukup. Hal ini bertujuan agar sistem pencernaan hewan bersih dan mempermudah proses pengulitan serta pembersihan jeroan nantinya.
Adab Penyembelihan: Merebahkan, Bukan Merobohkan
Ustadz Syaiful Mukmin memberikan penekanan khusus pada etika penyembelihan. Ia memperkenalkan filosofi "Merebahkan, Bukan Merobohkan". Menurutnya, banyak praktik di lapangan yang masih menggunakan cara-cara kasar yang menyakiti hewan.
"Dalam Islam, kita diperintahkan untuk berbuat ihsan kepada segala sesuatu, termasuk saat menyembelih. Cara merebahkan hewan harus dilakukan dengan halus menggunakan teknik tali-temali yang benar, bukan dengan cara dibanting atau dipaksa roboh yang berisiko menyakiti hewan,"
"Jika hewan disembelih dengan cara yang kasar, diakhirat nanti hewan tersebut bisa jadi menuntut kita, jelas Ustadz Syaiful. "
Selain adab, aspek teknis berdasarkan standar Juleha (Juru Sembelih Halal) juga dikupas tuntas. Hal ini mencakup pemutusan tiga saluran (saluran napas, saluran makanan, dan dua pembuluh darah) secara cepat dan tepat dengan sekali irisan.
Standarisasi Alat dan Pengolahan Daging
Keberhasilan penyembelihan sangat bergantung pada alat yang digunakan. Ustadz Syaiful menerangkan bahwa alat yang ideal adalah pisau atau golok yang sangat tajam, berbahan baja berkualitas tinggi seperti stainless steel, dan memiliki panjang yang cukup agar proses penyembelihan berjalan efisien tanpa menyiksa hewan.
Tak berhenti pada proses sembelih, kajian ini juga mengedukasi panitia mengenai tata cara pengolahan daging yang higienis. Pemateri menekankan pentingnya memisahkan antara zona merah dan zona hijau. Zona merah adalah zona tempat penyembelihan dan tempat pemisahan kulit dengan daging, sedangkan zona hijau adalah zona penimbangan, pengirisan dan packing, serta menjaga kebersihan tempat pemotongan agar daging yang dibagikan kepada jamaah dalam kondisi sehat, bersih, dan halal.
Antusiasme Jamaah dan Sesi Tanya Jawab
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para panitia dan shohibul kurban banyak berkonsultasi mengenai permasalahan praktis di lapangan, seperti hukum pembagian daging, hukum pembelian hewan kurban, dan juga hak kewajiban shohibul dan panitia kurban.
Ketakmiran Masjid As-Salam berharap, melalui edukasi ini, pelaksanaan kurban di tahun 2026 dapat menjadi percontohan bagi lingkungan sekitar dalam menerapkan standar kurban yang syar'i, beradab, dan profesional. Dengan pemahaman yang benar, diharapkan esensi dari ibadah kurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada Sang Pencipta dapat tercapai dengan sempurna.
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.