Pengajian

Bukan Sekadar Gerakan Fisik, Ustadz Seneng Raharjo Ajak Jamaah Selami Rahasia Kekhusyukan Shalat

A
Admin As-Salam
06 Juli 2026 5 mnt baca 4 views
Bukan Sekadar Gerakan Fisik, Ustadz Seneng Raharjo Ajak Jamaah Selami Rahasia Kekhusyukan Shalat
Dengarkan Rekaman Kajian 00:00 / 00:00

BANTUL - Esensi ibadah shalat bukan sekadar rutinitas fisik yang berpindah dari satu gerakan ke gerakan lainnya. Di balik setiap takbir, ruku', hingga salam, terdapat untaian makna filosofis mendalam yang mampu menggetarkan jiwa jika benar-benar diresapi. Pembahasan berbobot inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan Kajian Ahad Pagi di Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul yang dihadiri oleh puluhan warga sekitar sejak waktu Subuh.

 

Majelis ilmu yang digelar secara rutin ini diawali dengan pelaksanaan shalat Subuh berjamaah yang khusyuk. Membuka tausiyahnya, Ustadz Seneng Raharjo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ketua Takmir Masjid As-Salam beserta seluruh jajaran, para Ketua RT, RW, Kepala Dusun, dan seluruh jamaah yang istiqomah memakmurkan masjid. Beliau mendoakan agar seluruh jamaah yang hadir dicatat sebagai ahli ilmu (ahlul 'ilmi) dan ahli amal, dilimpahkan rezekinya, serta diberikan jalan untuk berziarah ke Tanah Suci Makkah.

Kepedulian Sosial dan Doa Bersama untuk Jamaah

Sebelum memasuki materi inti, suasana majelis sempat berubah khidmat dan penuh haru saat Ustadz Seneng Raharjo mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk menunjukkan empati sosial. Beliau mengabarkan bahwa salah satu jamaah aktif Masjid As-Salam, saat ini sedang terkendala kesehatan dan terbaring sakit.

 

Dipimpin langsung oleh Ustadz Seneng, puluhan jamaah dengan tulus melantunkan surah Al-Fatihah dan untaian doa kesembuhan, memohon agar Allah SWT segera mengangkat penyakit beliau dan mengembalikan kesehatannya seperti sedia kala.

Filosofi "Wit Gedhang" dan Keistimewaan Ibadah Shalat

Memasuki pengantar materi, Ustadz Seneng mengutip perumpamaan dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang mengibaratkan ilmu agama bagaikan mata air yang jernih, di mana orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengambil manfaat maksimal darinya. Beliau juga mengajak jamaah merenungkan falsafah lokal masyarakat Jawa melalui tanaman pisang (wit gedhang).

"Pohon pisang itu adalah makhluk yang sangat bermanfaat. Ia pantang mati sebelum ia bisa berbuah atau mengeluarkan jantungnya (montong). Uniknya, ketika jantung pisang itu keluar, ia selalu menunduk ke bawah, bukan tegak menantang ke atas. Ini adalah simbol dan tamparan filosofis bagi manusia agar senantiasa memiliki sikap rendah hati (tawadhu), tidak sombong, dan selalu memberikan kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya sebelum ajal menjemput."

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa shalat adalah ibadah yang sangat istimewa dan menempati kedudukan tertinggi dalam Islam. Berbeda dengan syariat atau kewajiban ibadah lain yang hukumnya diturunkan oleh Allah SWT di bumi, perintah shalat lima waktu diberikan secara langsung oleh Allah kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW di langit tertinggi, yakni di Sidratul Muntaha saat peristiwa agung Isra Mikraj.

Membedah 5 Makna Filosofis Rangkaian Gerakan Shalat

Untuk menuntun jamaah meraih kualitas shalat yang khusyuk, Ustadz Seneng Raharjo membedah secara rinci rahasia di balik lima rangkaian gerakan utama dalam shalat:

  • Makna Takbiratul Ihram (Penyerahan Diri Total): Ketika seorang hamba berdiri tegak menghadap kiblat, mengangkat kedua belah tangan, dan mengagungkan nama Allah melalui kalimat Allahu Akbar, gerakan ini melambangkan penyerahan diri secara total. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk lemah yang sedang tenggelam di dalam lautan dosa dan maksiat. Gerakan mengangkat tangan ke atas diibaratkan seperti seseorang yang kapalnya karam di tengah samudra, melambaikan tangan meminta pertolongan mutlak hanya kepada Sang Pencipta.

  • Makna Ruku' (Kepatuhan Total & Keikhlasan): Gerakan membungkukkan badan dalam ruku' menunjukkan kesiapan lahir batin seorang hamba untuk patuh menerima titah dan perintah Allah SWT. Secara filosofis, ruku' menuntut manusia untuk memalingkan wajahnya dari mencari pujian (pangalembana) atau sekadar "cari muka" di hadapan sesama manusia, termasuk kepada atasan atau pemimpin di tempat kerja. Ruku' mengarahkan fokus manusia hanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah.

  • Makna Sujud Pertama (Mengingat Asal Usul Tanah): Saat dahi yang menjadi simbol kehormatan manusia bersentuhan langsung dengan lantai tempat sujud, manusia sedang diingatkan pada firman Allah: Minha khalaqnakum (Dari bumi/tanah Kami menciptakan kamu). Manusia harus sadar mereka berasal dari saripati tanah yang rendah. Ustadz Seneng berpesan agar manusia "berteman dengan bumi" dengan rajin bersujud dan bertasbih, agar kelak saat meninggal dunia dan masuk ke liang lahat, bumi akan menyambut dengan ramah. Sebaliknya, orang yang sombong dan enggan bersujud akan membuat bumi marah dan menghimpit jasadnya hingga hancur.

  • Makna Duduk di Antara Dua Sujud & Sujud Kedua (Simbol Kebangkitan): Momentum ketika hamba bangkit dari sujud pertama menuju duduk di antara dua sujud melambangkan fase masa depan saat manusia dibangkitkan dari alam kubur (Wa minha nukhrijukum taratan ukhra - Dan dari bumi pula Kami akan mengeluarkanmu kelak). Beliau mengingatkan pentingnya tradisi takziah (melayat) dan mengantarkan jenazah hingga ke pemakaman sebagai ibrah (pelajaran) nyata bahwa tubuh yang dibangga-banggakan ini kelak akan hancur di tanah sebelum dibangkitkan pada Hari Kiamat.

  • Makna Salam (Harapan Keselamatan Yaumul Hisab): Menutup ibadah shalat dengan menolehkan wajah ke arah kanan dan kiri bukanlah sekadar ucapan selamat tinggal biasa. Gerakan ini merupakan wujud permohonan dan doa kepada Allah SWT agar kelak pada Hari Perhitungan (Yaumul Hisab), kita dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang menerima buku catatan amal (rapor) dari sebelah kanan. Beliau menganalogikannya seperti anak sekolah; anak yang rajin belajar akan menerima rapor dengan wajah berseri-seri penuh suka cita, sedangkan anak yang malas akan ketakutan saat rapornya dibagikan. Menerima rapor dari tangan kanan adalah simbol keselamatan dan ahli surga.

Mengakhiri tausiyahnya yang mendalam, Ustadz Seneng Raharjo berharap agar ibadah shalat yang didirikan oleh jamaah selama ini tidak hanya berhenti sebagai gerakan rutinitas yang hampa. Khusyuk memang hal yang sulit dicapai, namun jika makna dari setiap gerakan terus dilatih, diresapi, dan dihayati di dalam hati, maka lama-kelamaan kekhusyukan itu akan menjadi sebuah kebiasaan yang melekat.

 

Kajian pun ditutup dengan untaian doa sapu jagat secara bersama-sama guna memohon keselamatan dunia dan akhirat.

A

Penulis Berita

Admin As-Salam

Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.