BANTUL - Esensi dari sebuah ibadah tidak hanya diukur dari seberapa sering kita melakukannya, melainkan dari bagaimana kita menjaga kesucian niat tersebut agar tidak layu sebelum membuahkan pahala. Untaian nasihat bermakna inilah yang memenuhi ruang utama Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul pada agenda rutin Kajian Ahad Pagi.
Kajian yang digelar santai selepas shalat Subuh berjamaah ini dibersamai oleh Ustadz Ali Amran. Menyesuaikan dengan profil jamaah yang hadir, Ustadz Ali membawakan materi dengan gaya yang jenaka, rileks, dan penuh empati. Beliau bahkan mempersilakan jamaah yang merasa lelah untuk meluruskan kaki (selonjor).
Sambil berseloroh, beliau memaklumi fisik para jamaah yang mayoritas sudah memasuki usia senja, di mana duduk bersila terlalu lama rentan memicu asam urat, pegal, dan linu. Di awal ceramah, beliau juga memberikan apresiasi khusus kepada pengurus Takmir yang sejak pagi buta tampak penuh semangat mendorong gerobak berisi "amunisi" konsumsi sarapan jamaah ke masjid, sebagai wujud nyata dari amal ibadah.
Hakikat Keikhlasan dan Perusaknya
Mengawali materi inti, Ustadz Ali Amran mengutip sabda Rasulullah SAW mengenai keutamaan menjaga ketulusan niat. Barang siapa yang mampu menjaga keikhlasan ibadahnya murni karena Allah SWT selama 40 hari berturut-turut, maka Allah akan memancarkan sumber-sumber hikmah dari dalam hatinya melalui lisannya.
"Pertanyaannya, ikhlas yang sejati itu seperti apa? Ikhlas itu ibarat ketulusan seorang ibu yang memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayinya. Sang ibu memberikannya dengan penuh cinta tanpa pernah menghitung-hitung berapa liter yang sudah keluar, dan tidak pernah menagih imbalan di kemudian hari. Sayangnya, banyak di antara kita yang sudah bersusah payah beribadah, namun tanpa sadar merusaknya sendiri hingga nilai pahalanya kembali jatuh ke titik nol."
Ustadz Ali menjabarkan tiga hal krusial yang sering kali menjadi perusak tidak terlihat dari nilai ibadah manusia:
-
Sibuk Mencari Kesalahan Orang Lain: Fenomena di mana seseorang sudah lelah mendirikan shalat, rajin bersedekah, dan bangun pagi demi mengejar kebaikan, namun energinya habis hanya untuk memikirkan dan menilai kekurangan tetangganya. Padahal, tugas seorang hamba hanyalah fokus beribadah dan mengajak sesama mendekat kepada Allah, bukan menjadi hakim atas hidup orang lain.
-
Merasa Bangga Diri (Sombong): Beliau menyebutkan ada empat jenis kesombongan manusia yang sering muncul, yaitu sombong karena kekayaan, pangkat jabatan, fisik (kecantikan atau ketampanan), dan yang paling berbahaya adalah sombong karena merasa ibadahnya sudah paling mantap. Merasa diri paling suci dan merendahkan kualitas iman orang lain adalah awal kehancuran, sebab esensi dari gerakan sujud sebenarnya adalah agar manusia tidak membusungkan dada dan menyadari kelemahannya di hadapan Allah SWT.
-
Riya dalam Beramal: Melakukan kebajikan hanya demi mengejar pujian, sanjungan, dan penilaian dari sesama manusia. Manusia sering lupa bahwa yang memberikan mereka makan, rezeki, hingga oksigen gratis untuk bernapas setiap detik adalah Allah SWT, bukan penilaian manusia. Beliau mengingatkan, kemewahan dunia seperti mobil Alphard atau pakaian mahal sekalipun tidak akan dibawa mati; jasad hanya akan diantar manusia beberapa meter saja menuju liang lahat dengan helai kain kafan.
Tiga Pilar Merawat Khusyuk dan Ikhlas
Agar investasi akhirat para jamaah tidak terbuang sia-sia akibat penyakit hati, Ustadz Ali Amran memberikan tiga tips konkret yang wajib dilatih dalam kehidupan sehari-hari:
-
Membiasakan Akhlak Mulia: Hal ini bisa dimulai dari tindakan paling sederhana, yaitu menebarkan salam (Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh) saat berpapasan dengan tetangga atau saudara. Kebiasaan saling menyapa dan menjaga silaturahmi akan membersihkan hati dari dendam. Sebaliknya, memelihara rasa jengkel dan kebencian antar-tetangga hanya akan memicu stres, menaikkan penyakit asam lambung, membuat dada sesak, dan mengotori ketenangan ibadah.
-
Ikhlas Tanpa Riya: Membangun keyakinan penuh bahwa segala urusan di dunia ini mutlak berada di tangan Allah SWT. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kita, maka jalannya akan dimudahkan, dan begitu pula sebaliknya. Fokuskan pandangan hanya kepada rida Allah dengan memperbanyak dzikir: “Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir” (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik penolong).
-
Menumbuhkan Sikap Tawadhu (Rendah Hati): Orang yang memiliki adab dan ilmu yang tinggi akan selalu melihat sisi kebaikan pada diri orang lain dan tidak pernah memandang rendah siapa pun. Kesombongan biasanya muncul karena seseorang merasa paling pintar di lingkaran orang bodoh, atau paling kaya di lingkungan orang miskin. Di hadapan Allah, manusia bukanlah siapa-siapa, dan pada akhirnya jasad kita semua akan terkubur di dalam tanah serta menjadi santapan cacing tanah. Oleh karena itu, ilmu yang berkah harus selalu diiringi dengan adab yang baik.
Sebelum mengakhiri ceramahnya, Ustadz Ali Amran mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk menundukkan kepala, bermunajat, dan berdoa secara khusyuk. Melalui lantunan dzikir La ilaha illallah, beliau memimpin doa keselamatan agar diri, keluarga, serta anak keturunan jamaah senantiasa dijaga oleh Allah SWT dari perbuatan maksiat, zina, kesyirikan, dan kemusyrikan, serta dianugerahi kesehatan fisik, pendengaran, dan penglihatan yang berkah.
Demi menjaga kenyamanan para jamaah lansia agar tidak terlalu lelah dan mengantuk, Ustadz Ali menepati janjinya dengan memadatkan materi kajian yang semula dialokasikan 30 menit menjadi hanya 20 menit saja. Begitu majelis ilmu ditutup dengan hamdalah, kehangatan khas warga Sutopadan langsung berlanjut di halaman masjid melalui tradisi ramah tamah dan menikmati hidangan sarapan bersama yang telah disiapkan oleh panitia takmir.
Topik Terkait:
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.
Salurkan Infaq & Sedekah Terbaik Anda
Mari bersama memakmurkan Masjid As-Salam Sutopadan. Setiap rupiah yang disalurkan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada henti.
Bank Syariah Indonesia (451)
7325 1906 68
Atas Nama Rekening
ZIS ASSALAM SUTOPADAN
Transaksi Aman & Terverifikasi