BANTUL – Jamaah Masjid As-Salam Sutopadan kembali memadati ruang utama masjid untuk mengikuti agenda rutin Kajian Ahad Pagi (KAP) pada Ahad (18/10/2026). Kajian yang penuh kehangatan dan keakraban ini menghadirkan penceramah Ustadz Tri Antoro, S.T, yang mengupas tuntas materi penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Seperti biasa, rangkaian acara diakhiri dengan kegiatan sarapan bersama seluruh jamaah.
Pantun Pembuka dan Warta Kehidupan
Acara diawali dengan pantun jenaka dari Ustadz Tri Antoro, S.T., yang mengapresiasi kekompakan jamaah. Dalam muqaddimahnya, beliau mengajak jamaah memanjatkan rasa syukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga dapat berkumpul di Masjid As-Salam Sutopadan, Kecamatan Kasihan, Bantul.
Beliau juga menyentuh fenomena lingkungan, seperti musibah asap akibat kebakaran hutan di pulau sebelah (Kalimantan), serta mengingatkan pentingnya mendoakan para pemimpin agar senantiasa diberikan hidayah untuk membangun bangsa dengan bijak dan berwawasan masa depan.
Kupas Kitab Ihya Ulumuddin: Menjaga Hati dari Pintu Masuk Syaitan
Memasuki materi inti, Ustadz Tri Antoro membedah karya ulama besar Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tentang tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Beliau menekankan bahwa hati adalah benteng utama manusia. Kebersihan hati menentukan jernihnya pikiran dan perilaku; sebaliknya, jika hati rusak, akhlak pun ikut terpuruk.
Beliau menjelaskan bahwa syaitan tidak bisa begitu saja merasuki manusia tanpa melalui pintu kelemahan yang dibuka oleh manusia itu sendiri. Dalam kesempatan ini, beliau membedah tiga pintu utama masuknya syaitan ke dalam diri manusia:
1. Sifat Marah (Ghadhab)
Menurut Imam Al-Ghazali, bukan syaitan yang membuat manusia marah secara langsung, melainkan sifat marah dalam diri manusialah yang tersulut terlebih dahulu hingga membuka pintu bagi syaitan untuk masuk. Orang yang sedang marah diibaratkan seperti orang yang terkena bius karena perilakunya dikendalikan oleh syaitan.
"Orang yang kuat itu bukanlah orang yang menang dalam bergulat, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika sedang marah."
Beliau mengingatkan hadits Nabi SAW tersebut dan menganjurkan amalan penawar marah, mulai dari merubah posisi tubuh (duduk atau berbaring), mengambil air wudhu, hingga mendirikan shalat.
2. Sifat Tamak dan Serakah
Pintu kedua adalah sifat tamak atau rakus yang diawali dari rasa suka berlebihan terhadap hal duniawi (harta, jabatan, atau lawan jenis). Rasa suka yang berlebihan akan membiaskan pikiran (love is blind) dan membutakan mata hati.
Ketika syaitan masuk melalui pintu tamak ini, akal sehat dan mata hati menjadi tidak berfungsi, hingga memicu tindakan mungkar seperti korupsi. Ustadz Tri Antoro juga menyelipkan pengalaman pribadinya saat bertugas memberikan pembinaan kerohanian di lembaga pemasyarakatan (Lapas/Rutan), di mana banyak mantan pejabat yang terjerumus akibat gagal mengendalikan hawa nafsu dan ketamakan harta.
3. Terlalu Kekenyangan (Wareg Tuwuk)
Pintu ketiga adalah kebiasaan makan berlebihan atau terlalu kenyang. Menurut beliau, kondisi kekenyangan yang melampaui batas dapat menimbulkan tiga dampak buruk:
-
Hilangnya rasa takut kepada Allah: Perut yang terlalu kenyang membuat hati menjadi keras dan lalai dari mengingat Sang Pencipta.
-
Hilangnya rasa kasih sayang dan empati: Mengikis kepedulian terhadap orang-orang yang kelaparan, yang mana hikmah empati ini ditegaskan melalui ibadah puasa.
-
Menimbulkan berbagai penyakit fisik: Pola makan tidak teratur dan mengonsumsi makanan bertoksik atau pemanis berlebihan merusak organ dalam tubuh.
Beliau mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Al-A'raf ayat 31: "Kulu washrabu wala tusrifu" (Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan).
3 Paksaan Utama Demi Kesehatan Kebugaran
Sebagai penutup kajian, Ustadz Tri Antoro, S.T. membagikan tiga "paksaan" positif untuk menjaga kebugaran jasmani dan rohani:
-
Memaksa Diri Berolahraga: Demi menjaga kesehatan fisik dan kesegaran tubuh.
-
Memaksa Diri Bersedekah: Demi membersihkan serta menyehatkan hati dari sifat kikir.
-
Memaksa Diri Beribadah: Demi menjaga keistiqamahan dalam shalat berjamaah dan amalan kebaikan sebagai bekal akhirat.
Beliau juga menasihati jamaah agar mengamalkan pola hidup sehat dengan mengutamakan konsumsi air putih rebusan dari sumur.
Ditutup dengan Sesi Sarapan Bersama
Setelah doa penutup, rangkaian Kajian Ahad Pagi di Masjid As-Salam Sutopadan diakhiri dengan tradisi sarapan bersama. Suasana penuh kehangatan dan keakraban tampak saat jamaah menikmati hidangan yang disediakan oleh pengurus takmir, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga dan jamaah masjid.
Topik Terkait:
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.
Salurkan Infaq & Sedekah Terbaik Anda
Mari bersama memakmurkan Masjid As-Salam Sutopadan. Setiap rupiah yang disalurkan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada henti.
Bank Syariah Indonesia (451)
7325 1906 68
Atas Nama Rekening
ZIS ASSALAM SUTOPADAN
Transaksi Aman & Terverifikasi