BANTUL - Langkah kaki ringan puluhan jamaah kembali memadati shaf sholat Subuh di Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul pada Ahad pagi ini. Kesungguhan warga dalam mengejar amalan yang paling dicintai Allah SWT, yaitu sholat tepat pada waktunya (as-sholatu 'ala waqtiha), menjadi pembuka yang sangat indah. Usai mendirikan sholat berjamaah, agenda langsung disambung dengan pelaksanaan Kajian Ahad Pagi yang dipimpin oleh pembicara keagamaan, Ustadz Berlin Sunardi.
Mengawali tausiyahnya dengan penuh kehangatan, Ustadz Berlin menyapa seluruh elemen jamaah, mulai dari para sesepuh, tokoh masyarakat, hingga anak-anak TPA yang hadir. Beliau mengingatkan tentang betapa besarnya rasa sayang Rasulullah SAW kepada umat akhir zaman yang belum pernah bertatap muka langsung dengan beliau, namun tetap teguh mengimani dan menghidupkan sunnah-sunnahnya. Rasulullah bahkan menyimpan doa khusus di akhir zaman agar seluruh umat yang dirindukannya tersebut bisa berkumpul bersama di dalam surga.
Memasuki inti kajian, Ustadz Berlin Sunardi mengajak jamaah untuk membuka Al-Quran Surat An-Nisa ayat 9. Ayat ini memuat perintah tegas dari Allah SWT agar orang-orang beriman memiliki rasa takut dan khawatir jika kelak meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah (dhurriyatan dhi'afan).
"Secara historis (asbabul nuzul), ayat ini berkaitan dengan seorang sahabat nabi yang sedang sakit sakaratul maut dan berniat mendonasikan seluruh hartanya di jalan Allah. Namun, Rasulullah SAW melarangnya dan meminta agar harta tersebut disisakan untuk jaminan hidup anak cucunya, hingga akhirnya diputuskan maksimal hanya sepertiga harta yang boleh disedekahkan. Melalui kisah ini, Allah melarang kita membiarkan anak keturunan kita jatuh dalam kondisi yang lemah, baik dari segi ekonomi, mental, maupun agama."
Guna membuka mata jamaah mengenai realitas kehidupan saat ini, Ustadz Berlin memaparkan beberapa fakta memprihatinkan yang terjadi di tengah masyarakat akibat rapuhnya pilar ekonomi dan pola asuh.
Beliau menceritakan kisah pilu dua bulan lalu tentang seorang ibu muda berusia 34 tahun di Bandung yang nekat membunuh kedua anaknya lalu bunuh diri akibat depresi terlilit utang piutang suaminya. Kasus serupa berupa gantung diri akibat himpitan ekonomi juga sempat terjadi di wilayah Bantul.
Tak hanya masalah finansial, rapuhnya mental generasi muda di era digital juga tergambar dari maraknya kasus bunuh diri pada anak remaja. Salah satu pemicunya bahkan terkesan sepele bagi orang dewasa, seperti seorang anak berusia 14 tahun di Bantul yang nekat mengakhiri hidup hanya karena gawai (HP) miliknya disita oleh orang tua sebagai bentuk pengawasan sekolah.
Di sisi lain, Ustadz Berlin juga mengingatkan dampak buruk ketika orang tua mendidik anak secara berlebihan dalam hal materi tanpa dibekali tanggung jawab. Beliau mencontohkan kasus kecelakaan maut di Sleman dan Jakarta, di mana anak-anak di bawah umur (14 tahun) sudah difasilitasi kendaraan mewah berupa motor gede (Ninja) dan mobil hingga memicu kecelakaan fatal yang merenggut nyawa orang lain.
Agar jamaah Masjid As-Salam tidak meninggalkan generasi yang lemah saat maut menjemput kelak, Ustadz Berlin Sunardi membagikan 4 resep utama yang wajib dijalankan oleh para orang tua:
-
Mengutamakan Pendidikan Agama (Dinul Islam): Di era digitalisasi ini, gawai (HP) sering kali menjauhkan komunikasi anak dan orang tua. Fondasi utama untuk membentengi anak adalah menanamkan akidah dan akhlak sejak dini, seperti keteladanan Luqman al-Hakim yang menasihati anaknya: "Ya bunayya la tushrik billah" (Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah). Selain mengandalkan bimbingan ustadz di masjid atau TPA, orang tua wajib memberikan contoh nyata di rumah, sebab satu contoh perbuatan jauh lebih baik daripada seribu nasihat lisan.
-
Membekali Anak dengan Ilmu Pengetahuan Umum: Setelah dibentengi agama, orang tua wajib mengusahakan anak-anaknya mendapatkan pendidikan formal setinggi mungkin. Ulama berpesan bahwa kesuksesan dunia dan akhirat hanya bisa diraih dengan ilmu. Apalagi di dunia kerja saat ini, kualifikasi minimal rata-rata sudah mensyaratkan ijazah S1. Orang tua tidak boleh lepas tangan dan pasrah begitu saja pada pihak sekolah, melainkan harus mendampingi proses belajar anak secara aktif.
-
Memupuk Rasa Tanggung Jawab dan Kemandirian: Anak-anak zaman sekarang cenderung dimanja dan enggan bersusah payah. Orang tua memiliki kewajiban untuk melatih kemandirian anak agar mereka paham mana hal yang benar dan salah, serta mampu bertanggung jawab atas setiap tindakan yang mereka lakukan agar siap menghadapi kerasnya kehidupan saat dewasa.
-
Membagi Harta Warisan secara Adil dan Syar'i: Jika orang tua ditakdirkan memiliki kelimpahan harta, maka kewajiban terakhir adalah memastikan pembagian harta warisan dilakukan secara adil berdasarkan ketentuan syariat Islam. Jamaah disarankan untuk berkonsultasi secara resmi kepada Kantor Urusan Agama (KUA) atau ahli agama agar pembagian waris tidak memicu perpecahan di antara anak-anak setelah orang tua wafat.
Di penghujung kajian, Ustadz Berlin mengingatkan sebuah pesan penutup yang sangat menggetarkan hati. Beliau menjelaskan bahwa di akhirat kelak, anak bisa menjadi penyebab orang tuanya yang semula hendak masuk surga, justru terseret masuk ke dalam api neraka akibat kelalaian orang tua dalam mendidik mereka selama di dunia. Beliau juga menyelipkan doa agar seluruh keturunan warga Sutopadan dijadikan generasi yang sholeh, sholeha, dan membanggakan.
Begitu majelis ilmu ditutup dengan hamdalah dan doa bersama, suasana halaman Masjid As-Salam Sutopadan langsung berubah meriah. Seperti tradisi yang sudah melekat kuat, jamaah berhimpun bersama menikmati hidangan sarapan hangat yang disediakan oleh panitia takmir masjid. Sesi ramah tamah ini menjadi penutup yang sempurna untuk mempererat keakraban antarwarga kampung.
Topik Terkait:
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.