Pengajian

Menapaki Tahun Baru 1448 H, Ustadz Yogi Liandi Kupas Rahasia Waktu Surah Al-Asr di Masjid As-Salam

A
Admin As-Salam
05 Juli 2026 5 mnt baca 15 views
Menapaki Tahun Baru 1448 H, Ustadz Yogi Liandi Kupas Rahasia Waktu Surah Al-Asr di Masjid As-Salam
Dengarkan Rekaman Kajian 00:00 / 00:00

BANTUL - Lapis-lapis keberkahan seolah menaungi kawasan Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul pada Ahad pagi ini. Mengawali fasa di awal tahun baru Islam 1448 Hijriah, puluhan jamaah tampak teguh memadati shaf sholat Subuh berjamaah meskipun cuaca Yogyakarta sedang memasuki "musim bediding" (suhu dingin yang menusuk tulang di waktu pagi).

 

Usai mendirikan sholat, jamaah tidak beranjak dari tempat duduknya untuk mengikuti rangkaian Kajian Ahad Pagi yang kali ini diisi oleh Ustadz Yogi Liandi.

Membuka majelis ilmu dengan bacaan Basmalah, Ustadz Yogi Liandi mengingatkan pentingnya mengawali setiap perkara dengan asma Allah agar majelis tersebut tidak menjadi "majelis bangkai" yang di dalamnya hanya berisi obrolan busuk atau ghibah. Beliau lalu membedah keutamaan waktu Subuh melalui Surat Al-Isra ayat 78, di mana sholat Subuh (quran al-fajr) menjadi ibadah yang disaksikan langsung oleh bertemunya malaikat malam dan malaikat pagi.

 

Beliau juga mengutip doa Rasulullah SAW, "Ya Allah, berkahilah umatku di waktu subuhnya." Jamaah yang hadir—yang didominasi oleh para sesepuh berwajah teduh atau beliau sebut sebagai "barisan subuh"—diharapkan senantiasa dijaga kesehatannya agar setiap sisa usianya dilingkupi akhir yang baik (husnul khatimah).

 

Memasuki materi utama, ustadz muda asal Palembang lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini mengajak jamaah melakukan muhasabah (introspeksi diri) mumpung masih berada di momentum tahun baru Hijriah. Beliau mengingatkan bahwa waktu berjalan sangat cepat, bahkan kalender global memperkirakan bulan Ramadan berikutnya akan jatuh di sekitar bulan Februari mendatang.

 

Mengutip perkataan sahabat Umar bin Khattab, "Hasibu qobla an tuhasabu" (Hisaplah diri kalian sebelum kalian dihisap), Ustadz Yogi membedah kandungan mendalam dari Surat Al-Asr.

Melalui sumpah Wal-Asr (Demi Masa), Allah SWT ingin memberikan penekanan luar biasa bahwa seluruh manusia tanpa terkecuali—baik kaya, miskin, muslim, non-muslim, pejabat, maupun rakyat biasa—secara mutlak berada dalam kerugian (la fi khusrin).

"Sebagai orang yang suka berdagang, saya mengartikan rugi adalah ketika modal habis tapi kita tidak mendapatkan keuntungan (boncos). Analoginya seperti modal 100 juta dipakai untuk belanja tepung, gula, dan ikan untuk membuat pempek, tapi selama sebulan tidak ada satu pun yang beli. Kita semua diberi Allah modal yang sama setiap hari, yaitu 24 jam. Ironisnya, hampir 30 persen lebih dari modal waktu itu habis kita gunakan hanya untuk tidur. Itulah mengapa manusia disebut makhluk yang merugi jika tidak pandai memisahkan diri dari kelalaian."

Agar tidak menjadi golongan manusia yang merugi sepanjang tahun, Ustadz Yogi Liandi menjabarkan empat pilar utama pemisah yang wajib diilmuwi dan diamalkan oleh jamaah:

  • Menjadi Orang yang Beriman: Iman memiliki makna meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan membuktikannya dengan amal perbuatan. Mengutip pandangan Imam Syafi'i, iman manusia itu bisa pasang surut (yazidu wa yankush), bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Beliau menceritakan pengalaman pribadinya saat masa kuliah di UAD dahulu, di mana berteman dengan lingkungan yang baik akan menjaga stabilitas iman, sedangkan saat lalai sholat menjadi tertunda. Menghadiri sholat Subuh berjamaah di tengah udara dingin Sutopadan adalah bukti nyata keimanan yang kuat.

  • Membekali Diri dengan Ilmu: Amal shalih tidak akan bernilai jika tidak didasari oleh ilmu yang benar. Sesuai dengan nasihat ulama, barang siapa menghendaki kesuksesan dunia wajib dengan ilmu, barang siapa menghendaki akhirat wajib dengan ilmu, dan jika menghendaki keduanya juga wajib dengan ilmu. Beliau menekankan bahwa belajar ilmu agama secara tatap muka di masjid jauh lebih barokah dan melatih adab daripada sekadar menonton YouTube di rumah yang rawan disambi memakai celana kolor. Di masjid, jamaah datang dalam kondisi berwudhu, memakai pakaian rapi, dan wangi.

  • Mengamalkan Amal Shalih: Pilar ini merupakan buah dari keimanan dan ilmu yang telah dipelajari. Jamaah diajak untuk memahami amalan harian, termasuk memahami perbedaan infak dan sedekah. Infak cakupannya lebih sempit karena hanya berupa harta benda (seperti zakat dan nafkah), sedangkan sedekah maknanya sangat luas; bisa berupa donasi harta, bantuan tenaga untuk mengurusi (ngopeni) masjid, hingga hal paling sederhana yaitu memberikan senyuman tulus antar sesama jamaah.

  • Saling Menasihati dalam Kebaikan dan Kesabaran (Dakwah): Melakukan gerakan amar ma'ruf nahi munkar. Mendukung kegiatan positif masjid melalui harta, tenaga, atau minimal doa agar tidak menjadi orang yang suka mencaci kebaikan. Sementara untuk urusan nahi munkar (mencegah kemungkaran), Ustadz Yogi mengakui tantangannya sangat berat karena sering terbentur rasa sungkan (pekewuh). Umat Islam melalui benteng jamaah masjid harus bersatu padu memerangi maraknya penyakit sosial zaman sekarang, seperti judi online, pinjaman online (pinjol), kecanduan gawai, aksi kejahatan jalanan (klithih), hingga penyimpangan LGBT.

Lebih lanjut, beliau mengupas tiga alasan mengapa banyak manusia yang tidak sadar bahwa dirinya sedang merugi, yaitu karena faktor Lupa akan tujuan hidupnya sebagai hamba Allah (Abdullah) dan pemimpin di bumi (Khalifatullah); Tertipu oleh kesibukan harian dan gemerlap dunia; serta Lalai dalam beramal. Beliau mengingatkan jamaah untuk cerdas membedakan antara Hak Pakai dan Hak Milik. Rumah, kendaraan, dan pakaian mewah hanyalah Hak Pakai yang akan ditinggalkan saat mati. Sedangkan Hak Milik sejati adalah amal ibadah dan dosa yang akan setia menemani manusia sampai ke dalam liang lahat.

 

Setelah kajian usai, agenda tidak langsung berhenti. Rangkaian kegiatan Ahad pagi yang produktif dan penuh berkah ini ditutup dengan indah melalui tradisi sarapan bersama, menjadi ruang silaturahmi yang hangat guna merajut kekompakan antarwarga kampung Sutopadan.

A

Penulis Berita

Admin As-Salam

Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.