Pengajian

Meniti Jalan Kesabaran Rumah Tangga: Pesan Menyentuh Ustadz Sigit Yulianto dalam Pengajian di Masjid As-Salam Sutopadan

A
Admin As-Salam
13 Juli 2026 5 mnt baca 9 views
Meniti Jalan Kesabaran Rumah Tangga: Pesan Menyentuh Ustadz Sigit Yulianto dalam Pengajian di Masjid As-Salam Sutopadan
Dengarkan Rekaman Kajian 00:00 / 00:00

BANTUL - Kehangatan ukhuwah Islamiyah begitu terasa di kawasan Sutopadan, Kasihan, Bantul. Melalui inisiatif mulia, salah satu keluarga jamaah aktif Masjid As-Salam menggelar agenda pengajian yang berlangsung dengan khidmat. Acara ini menjadi momentum berkumpulnya lintas elemen masyarakat, mulai dari jamaah Masjid As-Salam, warga sekitar, hingga para tamu undangan yang memenuhi Masjid As-Salam Sutopadan sejak pagi hari.

 

Hadir sebagai pemateri utama, Ustadz Sigit Yulianto membuka tausiyahnya dengan untaian tahmid dan doa keselamatan untuk teladan agung umat manusia, Nabi Muhammad SAW. Beliau mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk meresapi nikmat kesehatan dan panjang umur yang diberikan Allah SWT, yang mana karunia tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk menuntut ilmu agama.

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, Ustadz Sigit membedah tema krusial yang melekat erat pada kehidupan sehari-hari, yaitu Birrul Walidain (Berbakti kepada Orang Tua).

Fondasi Dalil dan Hakikat Kebajikan yang Paripurna

Ustadz Sigit menegaskan bahwa setiap manusia yang terlahir di bumi—kecuali Nabi Adam AS dan Nabi Isa AS—pasti memiliki bapak dan ibu. Oleh sebab itu, penghormatan kepada orang tua menduduki posisi yang teramat agung setelah tauhid. Beliau mengajak jamaah untuk merenungkan kandungan Al-Quran Surat Al-Isra ayat 23-24 dan Surat Luqman ayat 14-15.

"Dalam Surat Al-Isra, Allah SWT melarang keras seorang anak mengucapkan kata-kata keluhan sekecil apa pun seperti 'Ah' atau 'Uff', apalagi sampai membentak orang tua yang telah berusia lanjut. Kita diperintahkan untuk bertutur kata yang mulia (qaulan karima) dan merendahkan hati di hadapan mereka. Sementara dalam Surat Luqman, Allah secara spesifik menggambarkan betapa beratnya perjuangan seorang ibu yang telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, serta menyusui selama dua tahun penuh."

Lebih dalam, beliau mengupas bahwa istilah Birrul Walidain berakar dari kata Al-Birr, yang bermakna kebajikan paripurna. Merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 177, kebajikan sejati bukanlah sekadar formalitas menghadapkan wajah ke arah timur dan barat. Al-Birr adalah manifestasi utuh yang melibatkan keimanan mendalam, kerelaan mengorbankan harta untuk kerabat dan anak yatim, kedisiplinan shalat dan zakat, serta kesabaran tingkat tinggi di tengah kesempitan. Berbakti kepada orang tua bukanlah basa-basi lahiriah, melainkan pengabdian hati yang menuntut pengorbanan nyata.

Ladang Ujian Amal dan Bakti yang Tak Boleh Putus

Mengutip Al-Quran Surat Al-Mulk ayat 2, Ustadz Sigit mengingatkan bahwa esensi penciptaan hidup dan mati adalah untuk menguji siapa di antara manusia yang paling baik amalnya (liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala). Ujian ini tidak diukur dari kuantitas usia, melainkan kualitas amal. Di sinilah Birrul Walidain hadir sebagai salah satu ladang ujian terbesar bagi seorang anak. Manusia akan jatuh ke dalam kerugian besar jika waktu yang dimiliki tidak diisi dengan keimanan dan kesabaran dalam merawat orang tua.

Menariknya, beliau mengingatkan bahwa kewajiban berbakti kepada orang tua tidak serta-merta putus saat mereka telah meninggal dunia dan berpindah ke alam barzah. Terdapat empat amalan utama yang tetap wajib mengalir dari seorang anak:

  • Konsisten memohonkan ampunan dan memanjatkan doa terbaik untuk orang tua.

  • Menyalurkan sedekah jariyah yang pahalanya diniatkan khusus untuk orang tua.

  • Menjaga kerukunan dan persaudaraan antar-saudara kandung, serta menghindari perselisihan (terutama konflik terkait harta warisan).

  • Merawat dan menyambung tali silaturahmi dengan kerabat, sahabat, serta teman-teman dekat almarhum orang tua semasa hidup.

Hal ini selaras dengan hadits nabi bahwa saat manusia wafat, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa dari anak yang shalih.

Sesi Diskusi: Solusi Praktis Problematika Rumah Tangga

Memasuki sesi tanya jawab, suasana pengajian menjadi semakin interaktif saat beberapa jamaah melontarkan pertanyaan berbasis realitas sosial yang kerap ditemui di tengah keluarga:

  • Kewajiban Menantu Terhadap Mertua : Menanggapi sebuah tulisan viral di media sosial yang menyebutkan menantu tidak wajib berbakti kepada mertua, Ustadz Sigit memberikan jawaban bijak. Secara jalur nasab biologis, Birrul Walidain memang ditujukan kepada orang tua kandung. Namun, mertua adalah orang tua dari pasangan hidup kita. Menghormati dan memperlakukan mertua dengan baik adalah bagian mutlak dari cara memuliakan pasangan serta menjaga keharmonisan rumah tangga. Ini merupakan cerminan akhlak mulia dan adab muamalah yang sangat ditekankan dalam Islam.

  • Menghadapi Orang Tua atau Mertua Berkarakter Keras: Jika dihadapkan pada situasi di mana orang tua atau mertua gemar mengomel dan berbicara dengan nada kasar, Ustadz Sigit menekankan bahwa itulah letak ujian kesabaran bagi seorang anak. Solusinya bukan membalas dengan kekasaran, melainkan tetap menurunkan nada suara, berbicara sopan, dan konsisten menampilkan perangai terbaik. Kemuliaan seorang hamba di mata Allah dinilai dari kekokohan sabarnya di situasi yang tidak nyaman.

  • Mengatasi Anak yang Bersikap Kasar Kepada Orang Tua: Ketika anak atau cucu mulai berani bersuara keras kepada orang tua, beliau menyarankan agar orang tua terlebih dahulu melakukan introspeksi terhadap pola asuh masa lalu. Orang tua dilarang membalas kekasaran anak dengan bentakan atau kekerasan fisik. Langkah terbaik adalah memberikan teladan lisan yang lembut, mendekati mereka saat suasana hati sedang tenang, memberikan nasihat secara perlahan, dan yang paling utama adalah mengetuk pintu langit dengan mendoakan agar hati sang anak dilembutkan oleh Allah SWT.

Pengajian yang sarat akan edukasi keluarga ini diakhiri dengan munajat dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustadz Sigit Yulianto. Jamaah dengan khusyuk memohon keselamatan agama, keberkahan rezeki, kesehatan lahir batin, hingga kemudahan di saat sakaratul maut dan hari perhitungan amal kelak. Setelah majelis ditutup, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan silaturahmi yang hangat antara shohibul bait (tuan rumah), jamaah Masjid As-Salam, dan warga sekitar.

A

Penulis Berita

Admin As-Salam

Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.

Layanan ZIS As-Salam

Salurkan Infaq & Sedekah Terbaik Anda

Mari bersama memakmurkan Masjid As-Salam Sutopadan. Setiap rupiah yang disalurkan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada henti.

BSI

Bank Syariah Indonesia (451)

7325 1906 68

Atas Nama Rekening

ZIS ASSALAM SUTOPADAN

Konfirmasi & Donasi via Web

Transaksi Aman & Terverifikasi