Pengajian

Raih Pahala Setara Ibadah Haji di Kampung Sendiri: Hikmah Mendalam Kajian Ahad Pagi Masjid As-Salam

A
Admin As-Salam
25 Mei 2026 4 mnt baca 17 views
Raih Pahala Setara Ibadah Haji di Kampung Sendiri: Hikmah Mendalam Kajian Ahad Pagi Masjid As-Salam
Dengarkan Rekaman Kajian 00:00 / 00:00

BANTUL - Suasana Subuh di Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul, terasa begitu khusyuk pada Ahad kali ini. Sebelum materi inti disampaikan, acara diawali dengan tadarus surat-surat pendek dari Juz Amma yang dipandu secara bersama-sama oleh para jamaah. Lantunan ayat suci Al-Quran ini tidak hanya menenangkan hati, tetapi juga menjadi pembuka yang berkah bagi agenda rutin Kajian Ahad Pagi.

 

Pada kajian kali ini, Takmir Masjid As-Salam menghadirkan seorang pembicara yang sejuk, yaitu Ustadz Muhammad Husnan. Di hadapan ratusan jamaah yang memenuhi ruang utama masjid, beliau mengawali tausiyahnya dengan memberikan pujian serta apresiasi yang tinggi kepada para jamaah yang tekun melangkahkan kaki ke masjid demi sholat Subuh berjamaah. Beliau mengingatkan bahwa Subuh adalah salah satu sholat yang paling berat godaannya, namun menyimpan pahala yang paling besar.

 

Mengingat umat Islam saat ini sudah berada di penghujung bulan Dzulqo'dah dan akan segera memasuki bulan Dzulhijjah, Ustadz Muhammad Husnan mengingatkan bahwa fase ini adalah bagian dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan). Di bulan-bulan inilah setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Beliau juga mengutip perkataan ulama besar Ibnu al-Qayyim mengenai perbandingan keutamaan waktu di dalam Islam.

"Jika kita berbicara tentang waktu siang hari, maka 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling utama di sisi Allah, bahkan mengalahkan keutamaan siang hari di bulan Ramadan karena di dalamnya ada Hari Arafah. Namun, jika berbicara tentang waktu malam hari, maka 10 malam terakhir di bulan Ramadan adalah yang paling utama karena adanya malam Lailatul Qadar."

Oleh karena itu, Ustadz Muhammad Husnan sangat menganjurkan para jamaah untuk menghidupkan amalan puasa sunnah dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, terutama Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah yang bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Beliau juga menjelaskan hikmah di balik sunnah larangan memotong kuku dan rambut sejak tanggal 1 Dzulhijjah bagi orang yang berniat berkurban (shohibul kurban). Larangan ini bertujuan agar seluruh anggota badan tersebut tetap utuh dan ikut mendapatkan ampunan serta rahmat yang menyeluruh dari Allah SWT saat hewan kurban disembelih.

 

Menyadari realitas bahwa ibadah kurban dan ibadah haji memerlukan kesiapan harta yang tidak semua orang beruntung memilikinya, Ustadz Muhammad Husnan memberikan kabar gembira yang sangat menyentuh hati. Beliau menegaskan bahwa Islam itu indah dan tidak kaku (saklek). Bagi umat Islam yang belum mampu secara finansial atau masih mengantre giliran haji yang panjang, Rasulullah SAW telah mengajarkan beberapa amalan ringan yang bisa dikerjakan di kampung sendiri, namun nilai pahalanya setara dengan ibadah haji.

 

Berikut adalah empat amalan utama yang dijabarkan oleh beliau berdasarkan hadis-hadis sahih:

  • Sholat Fardhu Berjamaah di Masjid: Keluar dari rumah dalam keadaan sudah suci (berwudhu) khusus untuk melaksanakan sholat fardhu secara berjamaah di masjid akan mendatangkan pahala yang senilai dengan pahala seorang jamaah haji yang sedang berihram.
  • Merutinkan Zikir Setelah Sholat: Membaca Subhanallah (33 kali), Alhamdulillah (33 kali), dan Allahu Akbar (33 kali) dengan istiqomah setiap selesai sholat lima waktu. Amalan ini dahulu diajarkan Rasulullah kepada kaum fakir agar bisa mengejar pahala orang kaya, sekaligus menjadi wasilah dihapusnya dosa-dosa walaupun sebanyak buih di lautan.
  • Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid: Melangkahkan kaki ke masjid dengan niat murni untuk menuntut ilmu atau mengajarkan kebaikan, seperti menghadiri Kajian Ahad Pagi ini, dinilai di sisi Allah SWT dengan pahala ibadah haji dan umrah yang sempurna.
  • Berbakti Kepada Kedua Orang Tua: Menjaga, menaati, dan membahagiakan orang tua yang masih hidup, ataupun rajin mendoakan mereka yang sudah meninggal dunia, merupakan amalan tingkat tinggi yang diakui Rasulullah SAW sebagai pengganti jihad dan ibadah haji.

 

Di akhir kajian, suasana majelis menjadi lebih santai saat Ustadz Muhammad Husnan menyelipkan pesan tentang pentingnya menjaga silaturahim antarwarga melalui majelis ilmu. Sebagai penutup yang manis, beliau menyampaikan sebuah pantun nasihat yang disambut dengan senyuman hangat oleh para jamaah.

 

Begitu doa penutup selesai dibacakan, acara dilanjutkan dengan sesi ramah tamah dan sarapan bersama yang sudah disiapkan oleh panitia takmir masjid. Kehadiran sarapan ini tidak hanya mengenyangkan fisik, tetapi juga menjadi sarana yang ampuh untuk mempererat keakraban, kekompakan, dan rasa persaudaraan di antara jamaah di lingkungan Masjid As-Salam Sutopadan.

A

Penulis Berita

Admin As-Salam

Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.