BANTUL – Suasana penuh keberkahan dan kehangatan ukhuwah mewarnai Masjid As-Salam Sutopadan pada Ahad pagi ini. Puluhan jamaah tumpah ruah memenuhi ruang utama masjid untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah yang kemudian dilanjutkan dengan agenda rutin majelis ilmu, Kajian Ahad Pagi.
Hadir sebagai pemateri kali ini adalah Ustadz Syahril Sidiq, S.Pd.I., M.A., yang merupakan Penyuluh KUA Banguntapan sekaligus Ketua Bidang Tabligh dan Dakwah Komunitas PRM Tamantirto Utara. Mengangkat tema yang sangat menggugah hati, yakni "Keteguhan Iman dan Pengorbanan Sejati Nabi Ibrahim", beliau membawa jamaah menyelami kembali makna hakiki dari ibadah kurban.
Di awal tausiyahnya, Ustadz Syahril Sidiq mengajak jamaah untuk membayangkan ujian terberat yang pernah dipikul oleh seorang manusia. Beliau mengisahkan bagaimana Nabi Ibrahim AS harus menunggu hingga usia 90 tahun untuk dikaruniai seorang buah hati, Nabi Ismail AS. Namun, ketika anak yang sangat diidam-idamkan itu tumbuh besar dan menjadi penyejuk mata, Allah SWT justru menurunkan perintah yang luar biasa berat: menyembelih anak kesayangannya tersebut.
"Perintah ini bukanlah sekadar ujian biasa. Ini adalah ujian puncak untuk membuktikan dua hal fundamental: ketaatan mutlak kepada Allah SWT, dan keikhlasan untuk mengorbankan sesuatu yang paling berharga milik kita demi keridhoan-Nya," tutur Ustadz Syahril Sidiq di hadapan para jamaah.
Beliau kemudian menarik benang merah kisah tersebut dengan realitas umat Islam di era modern saat ini. Tidak jarang, niat untuk ikut berkurban saat Idul Adha tiba-tiba memudar karena adanya keraguan di dalam hati.
"Penyakit hati yang paling sering menghalangi kita untuk berkurban adalah rasa takut. Takut hartanya habis, dan takut rugi karena harus mengeluarkan uang jutaan rupiah. Padahal, harta itu sejatinya hanyalah titipan Allah."
Lebih lanjut, Ustadz Syahril Sidiq menjabarkan bahwa di era sekarang, Allah tidak meminta kita untuk menyembelih anak seperti ujian Nabi Ibrahim. Pengorbanan di masa kini memiliki dimensi yang lebih aplikatif dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada tiga bentuk pengorbanan yang bisa dilakukan oleh umat Islam saat ini:
- Berkurban Waktu: Merelakan waktu istirahat kita untuk melangkah ke masjid, menghadiri majelis ilmu, dan menjaga sholat fardhu, terutama sholat Subuh berjamaah seperti kajian pagi ini.
- Berkurban Harta: Mengeluarkan sebagian kelebihan rezeki untuk menunaikan ibadah haji. Jika belum mampu, wujudkanlah dalam bentuk membeli hewan kurban. Ujian harta kita jauh lebih ringan dibandingkan ujian nyawa dan darah daging sendiri.
- Berkurban Perasaan: Memiliki kelapangan dada dan kebesaran hati untuk menurunkan ego, mau saling memberi maaf, dan tak segan meminta maaf kepada sesama manusia.
Menutup kajiannya yang penuh hikmah, Ustadz Syahril memberikan satu pesan pamungkas yang sangat mendalam. Esensi dari menapak tilas jejak Nabi Ibrahim dan Ismail bukan sekadar mengalirkan darah hewan kurban ke tanah.
"Harapan terbesarnya adalah kita mampu 'menyembelih' sifat-sifat buruk yang bersarang di dalam diri kita. Kita berkurban untuk menghilangkan sifat rakus, sifat tamak, dan kesombongan yang mengotori hati," pungkasnya.
Kajian yang berlangsung khidmat ini kemudian ditutup dengan sebuah pantun jenaka dan penuh makna dari Ustadz Syahril Sidiq yang mengundang senyum para jamaah. Seusai doa penutup dilantunkan, keakraban jamaah Masjid As-Salam semakin terasa erat lewat sesi ramah tamah dan sarapan bersama yang telah disiapkan oleh panitia. Sebuah penutup pagi yang sempurna, memberi nutrisi bagi ruhani sekaligus jasmani.
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.