Pengajian

Sentuh Hati Melalui Adab dan Syukur: Ustadz Alwi Suwignyo Kupas Kitab Minhajul Muslim di Masjid As-Salam

A
Admin As-Salam
07 Juni 2026 4 mnt baca 10 views
Sentuh Hati Melalui Adab dan Syukur: Ustadz Alwi Suwignyo Kupas Kitab Minhajul Muslim di Masjid As-Salam
Dengarkan Rekaman Kajian 00:00 / 00:00

BANTUL - Suasana sejuk dan penuh berkah kembali menyelimuti Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul pada agenda rutin Kajian Ahad Pagi. Kegiatan mulia ini diawali dengan pelaksanaan sholat Subuh berjamaah yang diikuti oleh warga dengan penuh kekhusyukan. Usai dzikir setelah sholat, acara langsung dilanjutkan dengan penyampaian materi kajian ruhani yang dipimpin oleh Ustadz Alwi Suwignyo.

 

Mengawali untaian nasihatnya, Ustadz Alwi Suwignyo memanjatkan doa tulus agar seluruh jamaah sholat Subuh Masjid As-Salam mendapatkan limpahan pahala yang sempurna di sisi Allah SWT. Beliau mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW bahwa mendirikan sholat Subuh secara berjamaah di masjid memiliki ganjaran yang luar biasa, yaitu setara dengan pahala orang yang mendirikan sholat malam semalam suntuk.

 

Pada kesempatan kali ini, Ustadz Alwi membedah materi dari kitab monumental Minhajul Muslim, yang merupakan kitab panduan dan pedoman hidup bagi setiap umat Muslim. Tema yang diangkat secara khusus mengupas tentang pentingnya "Adab". Beliau menjelaskan bahwa adab bukanlah sekadar rutinitas lahiriah, melainkan sesuatu yang tempatnya bermuara di dalam hati manusia.

"Terbentuknya akhlak yang mulia itu selalu dimulai dari adab yang ditanamkan sejak dini melalui pendidikan dan pembiasaan. Contoh sederhananya adalah kebiasaan bangun pagi. Ketika orang tua konsisten mendidik anak-anaknya untuk bangun sebelum Subuh, maka hatinya akan tersentuh. Begitu azan berkumandang, tubuhnya akan bergerak secara otomatis untuk mendirikan sholat. Pendidikan adab dari orang tua inilah benteng utama kita."

Ustadz Alwi memberikan refleksi mendalam mengenai realitas sosial saat ini. Banyak orang yang sudah terbangun di waktu Subuh, namun hatinya abai dan tidak peduli terhadap panggilan adzan. Beliau juga memperingatkan bahaya manusia yang terlalu sibuk mengejar urusan duniawinya sendiri tanpa henti, hingga tiba-tiba maut menjemput. Beliau melempar pertanyaan renungan: "Jika hidup hanya dihabiskan untuk urusan dunia sampai meninggal, lalu sholatnya kapan? Membaca Al-Qur'annya kapan?" Oleh karena itu, jamaah harus bersyukur karena telah dipilih oleh Allah SWT menjadi golongan orang yang memiliki adab baik berkat didikan orang tua.

 

Lebih lanjut, Ustadz Alwi menekankan bahwa seorang makhluk ciptaan wajib memiliki adab yang tinggi di hadapan Allah SWT selaku Sang Pencipta. Segala keteraturan dan keindahan yang ada di dunia ini wajib diyakini sepenuhnya dikendalikan oleh Allah SWT. Sering kali manusia tidak sadar bahwa kenikmatan sehari-hari seperti rezeki, kesehatan, dan ketenangan keluarga datangnya murni dari Allah. Manusia baru tersadar akan berharganya nikmat-nikmat tersebut ketika Allah mencabutnya.

 

Bahkan, beliau menjelaskan bahwa sesuatu yang dianggap buruk oleh manusia—seperti rasa sakit—sebenarnya merupakan bentuk kasih sayang dan rezeki tersembunyi dari Allah SWT, karena sakit menjadi wasilah digugurkannya dosa-dosa terdahulu.

Terkait adab kepada Allah melalui rasa syukur, Ustadz Alwi menjabarkan dua tipe manusia dalam merespon nikmat:

  • Golongan Manusia yang Bersyukur: Manusia yang hatinya dipenuhi rasa syukur akan merasa sangat bahagia ketika menerima kebaikan, sama halnya seperti perasaan senang saat menerima buah tangan atau oleh-oleh dari tetangga dan saudara. Orang yang pandai bersyukur akan sangat mudah dan ringan mengucapkan kalimat Alhamdulillah atas kondisi apa pun yang menimpanya. Karunia rasa syukur inilah yang membuat jiwa dan raga mereka terasa ringan, bersemangat, dan tanpa beban dalam menjalankan seluruh perintah-perintah Allah SWT.

  • Golongan Manusia yang Kufur: Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki rasa syukur, mereka akan menganggap bahwa segala keberhasilan, harta, dan kemewahan yang dimiliki adalah murni hasil jerih payah dan upayanya sendiri, bukan karena pertolongan Allah. Akibatnya, lisan mereka menjadi sangat kaku dan sukar untuk sekadar mengucapkan Alhamdulillah. Ketidakpedulian ini membuat badan mereka terasa sangat berat dan malas untuk digerakkan menuju ketaatan serta menjalankan perintah Allah SWT.

Di akhir kajian, Ustadz Alwi mengingatkan dengan tegas mengenai ancaman nyata dari Allah SWT di dalam Al-Quran, bahwa bagi siapa saja yang kufur atas nikmat-nikmat-Nya, maka sesungguhnya siksa Allah teramat pedih. Oleh karena itu, menjaga adab kepada Allah dengan cara merawat rasa syukur di dalam hati adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat.

 

Setelah kajian yang sarat akan ilmu dan hikmah ini selesai ditutup dengan doa bersama, para jamaah dipersilakan menuju ke area halaman masjid. Agenda pagi yang berkah tersebut ditutup dengan indahnya kebersamaan melalui sesi sarapan bersama. Hidangan hangat yang disediakan oleh pihak Takmir Masjid As-Salam Sutopadan sukses melengkapi kebahagiaan jamaah sekaligus mempererat ikatan ukhuwah antarwarga kampung.

A

Penulis Berita

Admin As-Salam

Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.