BANTUL - Suasana ruang utama dan serambi Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul kembali dipadati oleh ratusan jamaah yang hadir dari berbagai penjuru wilayah. Mereka berkumpul dalam rangka mengikuti agenda rutin Pengajian Majuwa (Malam Jumat Wage). Majelis ilmu yang penuh dengan nuansa kekeluargaan ini menghadirkan penceramah kondang, Ustadz Mahroji Khudori.
Membuka majelis dengan rasa syukur yang mendalam, Ustadz Mahroji mengingatkan jamaah bahwa melangkahkan kaki menuju masjid—tempat terbaik di muka bumi—merupakan sebuah takdir kemuliaan yang patut disyukuri. Beliau kemudian menuntun seluruh jamaah untuk bersama-sama melafalkan untaian dzikir utama penggugur dosa: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Astaghfirullahal 'adzim, dan La ilaha illallah.
"Kalimat dzikir yang kita ucapkan ini terasa sangat ringan di lisan, namun memiliki bobot yang teramat berat di timbangan akhirat kelak. Dzikir ini adalah tanaman surga yang kita tanam di dunia untuk dipanen di akhirat, sekaligus menjadi sarana pembuka pintu rezeki yang datangnya tak terduga serta penenteram jiwa yang sedang gelisah."
Ancaman Terlalu Mencintai Dunia dan Pentingnya Syukur
Memasuki materi utama, Ustadz Mahroji mengutip Hadits Riwayat At-Thabrani mengenai bahaya seseorang yang bangun di pagi hari namun pikirannya hanya dipenuhi oleh urusan duniawi, seolah-olah hak Allah tidak ada dalam dirinya. Orang yang mengabaikan hak Allah untuk disembah dan dipuji akan diganjar dengan empat kondisi batin: dibuat bingung selamanya, dijadikan sibuk tanpa henti, merasa selalu kekurangan, dan impiannya tidak akan pernah tercapai.
Untuk menggambarkan betapa melimpahnya nikmat Allah yang sering kali dilupakan manusia, Ustadz Mahroji menceritakan pengalaman pribadinya saat mengantar keponakannya yang masih TK ke rumah sakit mata. Anak tersebut menangis kesakitan setiap kali bangun tidur karena saluran air matanya tersumbat sehingga bola matanya menjadi kering.
Mengutip keterangan dokter spesialis, beliau menjelaskan bahwa secara biologis, mata manusia membutuhkan cairan pembasah. Karunia air mata untuk berkedip, menangis, dan membasahi mata ini diberikan oleh Allah secara gratis tanpa perlu diminta melalui doa khusus.
Ketika nikmat sederhana seperti berkedip saja terganggu, manusia akan merasakan penderitaan yang luar biasa. Oleh karena itu, sungguh keliru jika manusia yang diberi kesehatan lengkap justru enggan memuji Allah dan malah disibukkan oleh kecemasan mengejar dunia yang tak ada habisnya.
Penyesalan Ahli Kubur dan Keajaiban Sedekah
Mengutip kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, Ustadz Mahroji menegaskan bahwa bagi orang yang sudah meninggal dunia di alam kubur, kesempatan hidup di dunia adalah hal yang paling mereka harapkan kembali. Mereka melolong ingin dihidupkan kembali walau sejenak, bukan untuk menumpuk harta, melainkan untuk bersedekah dan membenahi amal shalihnya.
Untuk memperkuat pesan tersebut, beliau menyampaikan tiga kisah keteladanan yang sangat menyentuh hati:
-
Kisah Penyesalan Separuh Roti: Di zaman Rasulullah SAW, seorang sahabat yang dikenal gemar bersedekah wafat. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia sempat berbisik, "Ngertio tak wehke kabeh" (Tahu begitu, saya berikan semuanya). Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa saat sakaratul maut, Allah memperlihatkan pahala raksasa dari separuh roti yang pernah disedekahkan sahabat tersebut kepada pengemis. Sahabat itu menyesal mengapa dulu ia tidak menyerahkan seluruh rotinya sekalian.
-
Kisah Kalung Fatimah Az-Zahra: Seorang musafir yang kelaparan dan tak memiliki pakaian layak datang melapor kepada Rasulullah SAW. Karena tidak memegang apa-apa, Nabi mengarahkannya ke rumah putrinya, Fatimah Az-Zahra. Fatimah yang juga tidak memiliki makanan akhirnya menyerahkan satu-satunya kalung hadiah dari suaminya, Ali bin Abi Thalib. Kalung itu kemudian dibeli oleh sahabat Nabi dengan harga tinggi berupa dinar, pakaian, makanan, unta, hingga seorang budak. Luar biasanya, budak tersebut kemudian diutus untuk mengembalikan kalung itu kepada Fatimah, dan oleh Fatimah sang budak langsung dimerdekakan. Satu kebaikan tulus mengikat keberkahan berantai.
-
Kisah Wakaf Tanah di Sleman: Ustadz Mahroji membagikan kisah nyata saat seorang ibu menawarkan tanah 1.000 m² seharga Rp500 juta. Karena tabungan yang ada hanya Rp400 juta dan beliau menolak berutang di usia kepala lima, transaksi batal. Beberapa bulan kemudian, ibu tersebut datang kembali dan memutuskan mewakafkan tanah 150 m² miliknya untuk dibangun masjid. Kuasa Allah bekerja, tak lama setelah masjid berdiri, sisa tanah milik ibu tersebut terkena proyek pembangunan jalan tol Jogja-Ngawen dan dibeli oleh negara seharga Rp2 Miliar. Ini menjadi bukti nyata bahwa harta yang diwakafkan di jalan Allah akan dibalas berkali-kali lipat secara tunai di dunia.
Penutup dan Doa Bersama
Mengakhiri pengajian Majuwa yang berlangsung hangat dan penuh gelak tawa mendidik tersebut, Ustadz Mahroji Kudhori mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk senantiasa istiqomah dalam menjalankan kebaikan sekecil apa pun.
Majelis ilmu ini ditutup dengan doa bersama mengutip ayat Al-Quran Surah At-Tahrim: "Robbana atmim lana nurona waghfirlana innaka 'ala kulli syai'in qodir" (Ya Allah, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu). Usai pembacaan Surah Al-Fatihah, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan menikmati santap malam bersama yang telah disiapkan oleh panitia takmir Masjid As-Salam Sutopadan.
Topik Terkait:
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.
Salurkan Infaq & Sedekah Terbaik Anda
Mari bersama memakmurkan Masjid As-Salam Sutopadan. Setiap rupiah yang disalurkan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada henti.
Bank Syariah Indonesia (451)
7325 1906 68
Atas Nama Rekening
ZIS ASSALAM SUTOPADAN
Transaksi Aman & Terverifikasi