BANTUL - Agenda rutin Pengajian Majuwa (Malam Jumat Wage) di Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul kembali berlangsung semarak dan penuh kehangatan. Ratusan jamaah memadati ruang utama masjid untuk mengikuti majelis ilmu yang dibersamai oleh dai muda lulusan ilmu pemerintahan sekaligus mubaligh aktif asal Kalimantan Barat yang berdakwah di DI Yogyakarta, Ustadz Muhammad Mardiansyah, S.I.P.
Dalam ceramahnya yang energik, humoris, namun sarat akan kedalaman makna, dai yang banyak berkiprah dalam dakwah sosial-keagamaan di wilayah Gunungkidul ini mengajak jamaah untuk membongkar filosofi hidup sawang sinawang (saling memandang keindahan hidup orang lain) yang kerap menjadi pemicu ketidaktenangan batin di era modern.
Menghentikan Budaya 'Sawang Sinawang' dan Belajar Bersyukur
Ustadz Muhammad Mardiansyah menguraikan bahwa sebagian besar beban batin dan ketidakbahagiaan manusia bersumber dari kebiasaan membandingkan kenikmatan diri dengan kenikmatan orang lain. Beliau mengingatkan hadits Nabi SAW agar dalam urusan duniawi, seorang mukmin hendaknya memandang orang yang berada di bawahnya (undzur ilaa man huwa asfala minkum) dan tidak selalu mendongak melihat yang di atasnya (wa laa tandzhuruu ilaa man huwa fauqakum).
"Hidup itu kerap kali hanya sebatas 'sawang sinawang'. Apa yang tampak indah pada diri orang lain belum tentu seindah realitas yang mereka jalani. Allah SWT telah memberikan takaran rezeki yang paling pas bagi setiap hamba-Nya. Jika seluruh keinginan manusia dituruti tanpa batas, bumi ini justru akan rusak oleh ketakpuasan dan keserakahan manusia itu sendiri."
3 Realitas Kehidupan Menurut Syekh Al-Izz bin Abdussalam
Merujuk pada nasihat ulama besar Syekh Al-Izz bin Abdussalam, Ustadz Mardiansyah membedah tiga hukum alam dalam kehidupan dunia yang tidak mungkin dihindari oleh siapa pun:
-
La Salamatan min Kalamin Nas (Tidak Ada yang Selamat dari Celaan Manusia): Sebaik atau sekaya apa pun seseorang, celaan atau komentar negatif dari manusia pasti akan tetap ada. Oleh karena itu, kunci ketenangan adalah tidak memusingkan anggapan orang lain serta mampu menjaga lisan dari kebiasaan membicarakan keburukan sesama (rasan-rasan).
-
La Najahan minal Maut (Tidak Ada yang Selamat dari Kematian): Setiap jiwa pasti akan mengalami sakaratul maut. Beliau mengingatkan bahwa saat sakaratul maut tiba, lisan disunnahkan untuk ditalkinkan dengan kalimat tauhid Laa ilaaha illallah. Selain itu, amalan yang paling diidamkan oleh orang yang sedang sakaratul maut maupun ahli kubur adalah diberikan kesempatan sejenak untuk bersedekah.
-
La Ruhatan Fih (Tidak Ada Istirahat Sejati di Dunia): Dunia pada hakikatnya adalah tempat kelelahan dan perjuangan beribadah. Istirahat sejati bagi seorang mukmin barulah dimulai ketika telapak kakinya telah melangkah memasuki pintu surga Allah SWT.
Membersihkan Hati Melalui Sedekah dan Menjaga Lisan
Di akhir tausiyahnya, Ustadz Mardiansyah berpesan agar jamaah aktif mensucikan harta dan jiwanya melalui zakat, infak, dan sedekah sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 103. Mengeluarkan sebagian harta untuk membantu fakir miskin dan anak-anak panti asuhan adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan hati yang sempit dan cemas.
Kajian Majuwa yang berlangsung hangat ini ditutup dengan doa bersama. Seluruh jamaah secara khusyuk memohon agar senantiasa diberikan keistiqomahan dalam beribadah, dilapangkan hatinya, serta diwafatkan kelak dalam keadaan husnul khatimah. Usai majelis dibubarkan, keakraban antar-jamaah terus berlanjut di serambi dan halaman Masjid As-Salam Sutopadan.
Topik Terkait:
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.
Salurkan Infaq & Sedekah Terbaik Anda
Mari bersama memakmurkan Masjid As-Salam Sutopadan. Setiap rupiah yang disalurkan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada henti.
Bank Syariah Indonesia (451)
7325 1906 68
Atas Nama Rekening
ZIS ASSALAM SUTOPADAN
Transaksi Aman & Terverifikasi