BANTUL - Esensi ibadah bukan sekadar kedekatan jarak secara fisik, melainkan masalah keterikatan hati dan niat yang tulus karena Allah SWT. Refleksi mendalam inilah yang menjadi salah satu topik utama dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid As-Salam Sutopadan, Kasihan, Bantul.
Kajian yang digelar selepas shalat Subuh berjamaah ini dibersamai oleh pembicara keagamaan, Ustadz M Hidayat, yang mengupas tuntas dinamika iman manusia serta bahaya di balik merosotnya kualitas ibadah.
Membuka ceramahnya dengan untaian rasa syukur, Ustadz M Hidayat menyampaikan kebahagiaannya karena bisa kembali merajut tali silaturahim dengan jamaah Masjid As-Salam dalam keadaan sehat walafiat.
Guna memantik pemahaman jamaah, beliau membagikan sebuah kisah tentang dua orang warga, sebut saja Pak A dan Pak B.
Pak A tinggal sangat dekat dengan masjid, jarak rumahnya hanya sekitar 5 meter. Sementara Pak B tinggal agak jauh, sekitar 200 meter dari masjid. Keduanya merupakan jamaah aktif yang rajin mendirikan shalat lima waktu di masjid. Suatu ketika, ujian datang menimpa Pak A. Beliau terserang penyakit stroke hingga mengalami kelumpuhan dan tidak bisa lagi datang ke masjid. Tak lama berselang, Pak B ternyata ikut menyusul terkena penyakit stroke yang sama.
Setelah menjalani proses terapi yang panjang selama berbulan-bulan hingga setahun, atas izin Allah keduanya akhirnya berangsur sembuh (mantun). Kendati demikian, kesembuhan mereka tidak berjalan sempurna. Kaki mereka masih agak pincang dan kesulitan untuk berjalan normal. Namun, ada perbedaan besar yang terjadi setelah mereka sembuh.
Pak B, meskipun harus berjalan dengan kaki yang tertatih-tatih dan diseret-seret, tetap memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk melangkah ke masjid demi shalat berjamaah. Sebaliknya, Pak A yang rumahnya sangat dekat justru tidak pernah kelihatan lagi di masjid.
"Kenapa nasib keduanya bisa bertolak belakang? Mengapa yang satu begitu gigih melangkah ke masjid walau jalannya harus diseret, sementara yang dekat justru menjauh? Jawabannya terletak pada niat dan rasa cinta di dalam hati. Iman itu sifatnya al-imanu yazidu wa yanqush, bisa bertambah dan bisa berkurang, bisa naik dan bisa turun. Iman itu seperti lampu petromak, jika tidak terus-menerus dipompa dan dirawat, maka cahayanya akan meredup lalu padam."
Ustadz M Hidayat mengingatkan bahwa naik turunnya iman adalah hal yang wajar dan manusiawi selama di dalam diri manusia masih ada hawa nafsu dan bisikan setan yang merayu. Namun, yang menjadi bahaya besar adalah ketika jamaah tahu imannya sedang melorot, tetapi memilih abai dan tidak segera memperbaikinya.
Beliau menjabarkan beberapa tanda peringatan (warning) saat iman seseorang mulai mengalami penurunan:
-
Malas Berjamaah di Masjid: Munculnya rasa malas untuk melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat lima waktu. Shalat yang biasanya di awal waktu mulai diundur-undur, bahkan mulai berani ditinggalkan.
-
Enggan Menghadiri Majelis Ilmu: Mulai timbul rasa jenuh dan enggan untuk datang ke pengajian atau majelis taklim, padahal sebelumnya sangat aktif.
-
Meninggalkan Shalat Sunnah: Hilangnya rutinitas shalat sunnah, seperti shalat Tahajjud yang biasanya tegak di sepertiga malam menjadi sering terlewatkan.
-
Meredupnya Aktivitas Tadarus: Al-Quran mulai berdebu karena jarang disentuh. Aktivitas mengaji yang biasanya rutin setiap habis Maghrib, merosot menjadi hanya seminggu sekali, lima hari sekali, atau bahkan tidak sama sekali.
-
Kikir dalam Berinfak: Menurunnya kepedulian sosial. Jamaah yang biasanya ringan tangan menyisihkan uang Rp2.000, Rp3.000, atau Rp5.000 setiap hari ke kotak infak, berubah menjadi sebulan sekali atau parahnya setahun sekali dengan alasan tidak ada anggaran.
Ustadz M Hidayat menegaskan bahwa jika tanda-tanda kemerosotan iman ini dibiarkan tanpa adanya upaya untuk "memompa" kembali, maka akan timbul tiga dampak buruk yang sangat fatal:
-
Membahayakan Akidah: Dampak terburuknya adalah rusaknya keyakinan hingga lepasnya iman (murtad). Mereka tidak lagi meyakini Allah, Rasulullah, Al-Quran, dan Ka'bah. Padahal Allah melarang keras dalam ayat-Nya: "Wala tamutunna illa wa antum muslimun" (Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim).
-
Membahayakan Ibadah: Shalat wajib mulai diremehkan dan ditinggalkan tanpa uzur syar'i. Padahal kewajiban shalat dan puasa berlaku seumur hidup selama manusia bernyawa dan berakal sehat, kecuali ada halangan mutlak seperti wanita yang sedang haid atau seseorang yang sedang dalam kondisi koma medis berbulan-bulan.
-
Membahayakan Akhlak: Hilangnya kontrol iman memicu manusia nekat melakukan kemaksiatan seperti korupsi, mabuk, dan mencuri. Ketika maksiat dilakukan, iman seseorang dipastikan sedang berada di titik terendah (drop).
Terkait kerusakan akhlak ini, Ustadz M Hidayat mengingatkan jamaah mengenai golongan orang yang bangkrut (muflis) di akhirat kelak sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Orang tersebut membawa pahala shalat, puasa, dan zakat yang melimpah, namun habis tak bersisa karena selama di dunia suka mendzalimi, memaki, dan memakan harta orang lain. Pahala kebaikannya akan ditransfer kepada orang yang didzalimi. Jika pahalanya habis, maka dosa-dosa orang yang didzalimi akan ditimpakan ke pundaknya, lalu ia dilemparkan ke dalam api neraka.
Sebagai solusi konkret untuk menjaga stabilitas iman agar tetap istiqomah, Ustadz M Hidayat memberikan tuntunan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk dibaca di setiap tasyahud akhir sebelum salam:
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinik” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Sebagai penutup, beliau mengutip peringatan keras dari Allah SWT dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 137 yang menegaskan bahwa orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman lagi lalu kafir lagi, dan terus bertambah kekafirannya, maka Allah tidak akan mengampuni mereka dan tidak pula menunjukkan jalan yang lurus. Diperlukannya komitmen kuat dari jamaah untuk saling menjaga, mengingatkan, dan merawat iman kolektif agar selamat di dunia dan akhirat.
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.