BANTUL – Jamaah Masjid As-Salam Sutopadan kembali memadati ruang utama masjid untuk mengikuti agenda rutin Kajian Ahad Pagi. Kajian yang diawali dengan tradisi tadarus surat-surat pendek (Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas) secara bersama-sama ini menghadirkan penceramah Ustadz Dr. H. Muhammad Husnan, Lc., M.H. Dalam tausiyahnya, beliau mengupas secara mendalam tema "Meneladani Nabi Muhammad SAW di Era Modern", memberikan panduan praktis bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan teknologi dan media sosial.
Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah dan Doa Malaikat
Beliau mengawali ceramah dengan mengingatkan keutamaan besar shalat Subuh berjamaah. Beliau mengutip hadits Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa seandainya manusia mengetahui pahala di balik shalat Isya dan Subuh berjamaah, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak. Shalat Isya berjamaah menyamai pahala shalat separuh malam, sedangkan shalat Subuh berjamaah diganjar seperti beribadah sepanjang malam.
Selain itu, Ustadz Muhammad Husnan juga menjelaskan kehadiran dua malaikat setiap pagi yang berdoa untuk hamba Allah:
"Ya Allah, berikanlah ganti (kelipatan) bagi orang yang gemar berinfak di pagi hari, dan berikanlah kesempitan/kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya."
1. Menjaga Kejujuran (Al-Amin) di Media Sosial & Kewajiban Tabayyun
Pesan pertama yang ditekankan oleh Ustadz Muhammad Husnan adalah pentingnya sifat jujur (Al-Amin) di era digital. Beliau mengingatkan bagaimana Rasulullah SAW sangat dicintai bahkan oleh musuh-musuhnya karena sifat jujur dalam perkataan dan perbuatan.
Ustadz Husnan menceritakan kisah seorang lelaki yang ingin masuk Islam namun masih terbiasa melakukan berbagai maksiat seperti minum khamr dan berjudi. Rasulullah SAW hanya memberikan satu syarat kepadanya, yaitu jujur. Berkat komitmen untuk tidak berbohong, lelaki tersebut akhirnya meninggalkan seluruh maksiat karena rasa malu jika ditanya secara jujur oleh Beliau saat bertemu.
Dalam konteks media sosial yang sarat dengan fitnah dan berita bohong (hoax), beliau menegaskan perintah Allah SWT untuk senantiasa bertabayyun (klarifikasi) sebelum menyebarkan suatu informasi.
2. Menjaga Lisan dan Jemari: Bahaya Menjadi Orang Bangkrut (Al-Muflis)
Pesan kedua adalah menjaga lisan dan perbuatan, yang di era sekarang menjelma dalam bentuk ketikan komentar dan jemari di media sosial. Beliau mengutip hadits Nabi SAW bahwa seorang Muslim sejati adalah mereka yang membuat orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Ustadz Husnan juga memberikan peringatan keras mengenai golongan Al-Muflis (orang yang bangkrut di akhirat). Mereka adalah orang yang datang membawa pahala shalat, puasa, dan zakat yang banyak, tetapi pahala tersebut habis dibagikan kepada orang lain yang pernah dicela, disakiti, atau dizalimi hatinya. Jika pahalanya habis, dosa orang yang dizalimi justru ditimpakan kepadanya sehingga ia dilemparkan ke dalam neraka.
Pelajaran Luqman Al-Hakim tentang Penilaian Manusia
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan kisah hikmah Luqman Al-Hakim yang mendidik anaknya menggunakan seekor keledai. Apapun posisi naik atau menuntun keledai yang dilakukan Luqman dan anaknya, tetap saja mendapat celaan dan komentar negatif dari masyarakat.
Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa pandangan dan penilaian manusia tidak akan pernah ada habisnya. Selama amalan yang kita lakukan berada di jalan yang diridhai Allah SWT, maka teruslah beristiqamah tanpa perlu goyah oleh komentar orang lain.
3. Hidup Sederhana dan Menjauhi Sikap Pamer (Flexing)
Pesan ketiga adalah meneladani kesederhanaan Rasulullah SAW dan menjauhi sifat riya' atau menunjuk-nunjuk (flexing). Beliau mencontohkan bagaimana Umar bin Khattab RA menangis saat melihat bekas garisan tikar pelepah kurma yang kasar di punggung Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian mengingatkan bahwa kemewahan dunia adalah untuk orang kafir, sedangkan kenikmatan akhirat adalah untuk orang beriman.
Ustadz Husnan menyoroti fenomena masa kini di mana sifat pamer harta di media sosial sering kali membawa kehancuran dan masalah hukum bagi diri sendiri maupun keluarga.
4. Memperbanyak Sedekah & Kisah Inspiratif Ahli Surga Penjaga Janda Tua
Sebagai penutup ceramah, beliau mengajak jamaah untuk memanfaatkan kemudahan teknologi modern (seperti QRIS dan perbankan digital) sebagai sarana meningkatkan sedekah.
Beliau menceritakan kisah inspiratif seorang dai dari Maroko yang bermimpi bertemu Rasulullah SAW sebanyak tiga kali. Dalam mimpi itu, Beliau menyuruhnya pergi ke Mekkah untuk menyampaikan salam kepada seorang lelaki biasa yang merupakan ahli surga.
Setelah ditemui, ternyata amalan rahasia lelaki tersebut adalah secara konsisten membagikan separuh gajinya setiap bulan untuk menyokong kehidupan seorang janda tua dan tiga anak yatim tanpa sepengetahuan orang lain. Lelaki berhati mulia ini akhirnya diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, yaitu saat sujud pada rakaat terakhir shalat berjamaah di Masjidil Haram.
Penutup
Majelis Kajian Ahad Pagi di Masjid As-Salam Sutopadan ini kemudian diakhiri dengan khusyuk melalui pembacaan doa Kafaratul Majlis secara bersama-sama: "Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik."
Topik Terkait:
Penulis Berita
Admin As-Salam
Tim redaksi dan kontributor konten dakwah digital. Berdedikasi dalam menyajikan informasi terkini seputar kegiatan Masjid As-Salam Sutopadan.
Salurkan Infaq & Sedekah Terbaik Anda
Mari bersama memakmurkan Masjid As-Salam Sutopadan. Setiap rupiah yang disalurkan insya Allah menjadi amal jariyah yang pahalanya mengalir tiada henti.
Bank Syariah Indonesia (451)
7325 1906 68
Atas Nama Rekening
ZIS ASSALAM SUTOPADAN
Transaksi Aman & Terverifikasi